Mengenai ketimpangan ekonomi, sosial, politik dan budaya di Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie menyatakan bahwa kita tengah berada dalam era yang serba kikuk. Ada berbagai bentuk paradoks yang tumbuh di Indonesia. Misalnya saja mengenai Indonesia yang kaya tapi miskin. Kaya pada sumber daya alamnya, namun miskin di penghasilan ekonomi masyarakatnya.

Situasi paradoks tersebut seolah diwariskan secara diam-diam turun-temurun. Bahkan pewarisan tersebut bisa mengalir begitu saja ke generasi selanjutnya tanpa disadari. Padahal hal semacam itu yang justru melemahkan Indonesia, memunculkan penyakit yang disebut BJ Habibie sebagai penyakit orientasi. Diagnosisnya bisa dilihat dari gejala lemahnya produktivitas, daya saing, bahkan kondisi perekonomian yang kian membungkuk.

Kemudian ada anggapan bangsa kita besar, tapi kerdil. Besar jangkauan wilayah negaranya akan tetapi kerdil dalam hak produktivitas dan daya saingnya. Selain itu kita dalam keadaan merdeka tapi terjajah. Merdeka hanya secara politik tapi masih terjajah secara perekonomian. Sedangkan yang lain yaitu kita kuat tapi lemah. Kuat dalam tindak kekerasan pada sesamanya namun lemah ketika harus menghadapi tantangan persaingan global. Kemudian manusia Indonesia indah tapi jelek. Indah dalam hal potensinya namin jelek dalam hal pengelolaannya yang korup.

Kumpulan paradoks tersebut bagi BJ Habibie, akar permasalahannya ada pada mental bangsa kita. BJ Habibie menamainya dengan ungkapan bangsa bermental kasir, seperti dikutip dari buku Total Habibie; Kecil tapi Otak Semua, A Makmur Makka.

Permasalahannya ada pada bangsa kita yang lebih mengutamakan citra daripada karya nyata. Berorientasi pada neraca perdagangan, bukan pada neraca jam kerja. Lebih menyukai jalan pintas dalam wujud korupsi, kolusi, penyelewengan daripada berorientasi pada amanah.

Bagi BJ Habibie, akan berbahaya bangsa kita jika tak segera bangkit dari penyakit bangsa bermental kasir. Maka dari itu baginya, bangsa kita harus dididik secara berkelanjutan. Sebab tulang punggung masa depan Indonesia bukan pada Sumber Daya Alam, akan tetapi Sumber Daya Manusia. Maka kesadaran kritis bangsa harus dibangun sesegera mungkin.

Insya Allah SMA Muhammadiyah 1 Klaten siap mencetak kader-kader yang mempunyai Sumber Daya Manusia yang handal.
Tunjukkan kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pulan jalan) mereka yang tersesat. (Qs. Al-Fatihah (1) : 6-7)

Sumber : http://www.merdeka.com