Kejahatan sudah semakin brutal. Bukan saja di dunia nyata, tapi juga berkeliaran di dunia maya. Bukan saja dari orang yang tidak kita kenal dan menjadikan kita sebagai target sasaran. Tapi acap kali, orang terdekat yang sehari-hari terlihat baik pun, tak jarang malah melakukan hal yang tak diinginkan.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman, bisa saja dimasuki oleh orang-orang yang tidak membuat nyaman. Aksesnya bisa dari telepon rumah atau telepon genggam. Bentuk penipuannya punmacam-macam.
Sebagai orangtua kita patut cemas. Cemas yang beralasan tentu saja. Apalagi, kita kerap menyaksikan kejadian di berita berbagai kejahatan menimpa orang terdekat, termasuk anak kita. Tapi terus-menerus cemas tentu saja akan membuat hari-hari yang kita lalui menjadi tidak nyaman.
Agar kita bisa melakukan berbagai pencegahan, berikut beberapa hal yang bisa kitaajarkan untuk anak-anak di rumah:
1. Hati-hati
Anak-anak perlu diajarkan untuk berhati-hati meski di rumah sendiri. Hati-hati untuk tidak mengangkat telepon rumah jika orangtua tidak ada. Misalkan telepon itu sudah terangkat, hati-hati untuk tidak menyebutkan nama mereka, alamat rumah, dan kondisi rumah pada saat itu. Sebab orang jahat, bisa melakukan kejahatan dari informasi terkecil sekali pun. Hati-hati juga jika anak-anak kita sudah memiliki akun di media sosial. Ingatkan mereka untuk tidak membuat status yang memberi tahu saat rumah kosong atau status yang menunjukkan lokasi rumah mereka secara detail.
2. Belajar untuk waspada
Waspada terhadap kejahatan sangat diperlukan. Mengajarkan kewaspadaan artinya mengajarkan anak untuk lebih paham, mana perilaku yang normal dan mana perilaku yang bisa menjerumuskan mereka pada sebuah kejahatan.Mereka harus tahu perbedaaan orang baik dan orang yang pura-pura baik. Untuk itu, ajarkan dengan contoh yang nyata. Misalnya dengan membaca buku atau menonton bersama sebuah film. Lalu lemparkan kalimat tanya, menurut kalian bagaimana dengan si A/B? Dari pertanyaan seperti itu, peluang diskusi akan terjadi. Harapannya anak-anak paham dan bisa membedakan.
3. Belajar tegas
Anak yang tidak pernah diajari untuk bertindak tegas, tidak bisa begitu saja melakukan tindakan tegas ketika ada orang yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada mereka. Misal, untuk kasus pelecehan seksual pada anak, banyak dari mereka membiarkan hal itu terjadi karena mereka tidak paham sebatas mana orang lain bisa menyentuh tubuh mereka. Ajarkan tegas yang baik, bukan sekadar emosi. Mengajarkan lewat hewan peliharaan bisa jadi contoh yang tepat.
4. Belajar minta tolong
Budaya ewuh pekewuh alias tidak enak hati, membuat kita jadi takut untuk meminta bantuan dari orang lain. Takut kalau mereka tidak suka dan takut merepotkan mereka. Anak-anak harus diajarkan bagaimana menghilangkan perasaan seperti itu. Ajarkan bahwa meminta tolong pada saat yang tepat pada orang lain, sangat diperlukan.
Pelajaran paling cepat adalah mengajarkan anak meminta tolong pada temannya. Misalnya, meminta ditemani untuk pergi jajan ke kantin atau ke kamar kecil. Kebiasaan kecil itu akan sangat membantu membuat mereka belajar untuk berani minta tolong. Ajarkan juga untuk terbiasa menolong lebih dahulu. Dengan begitu orang lain juga akan sukarela menolong mereka.
5. Terus lindungi mereka
Terus lindungi mereka dengan bersikap komunikatif pada mereka. Dengan begitu anak-anak merasa nyaman dan menjadikan orangtua sebagai orang nomor satu tempat mereka melaporkan kejadian buruk yang menimpa mereka. Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal itu.
Mencegah memang lebih baik. Karena itu, sebagai orangtua—bahkan yang sangat sibuk sekali pun—coba untuk tetap berkomunikasi dengan anak-anak. Anda akan merasakan sesuatu yang janggal atau tidak, jika terbiasa berkomunikasi dua arah dengan mereka. Dengan begitu, kalau ada potensi yang mengundang hal kurang mengenakkan atau kejahatan yang menimpa mereka, Anda pun bisa segera mengetahui dan melakukan tindakan.

Tim Andriewongso, January 3, 2017